Jumat 08 Dec 2017 17:01 WIB

Dirut Garuda Buka-bukaan Soal Penyebab Gangguan Penerbangan

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Nidia Zuraya
Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury memberikan keterangan usai melakukan pengecekan operasional penerbangan secara langsung di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat (8/12).
Foto: Republika/Rahayu Subekti
Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury memberikan keterangan usai melakukan pengecekan operasional penerbangan secara langsung di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat (8/12).

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Pahala N Mansury mengungkapkan alasan mengenai gangguan operasional yang dialami pada pekan lalu selama beberapa hari. Sejak Jumat (1/12), penumpang Garuda mengalami penundaan dan pembatalan penerbangan.

Pahala mengakui, permasalahan tersebut berawal sejak adanya penutupan bandara di Bali dan Lombok. "Sehingga ada sekitar kurang lebjh 70o bahkan 800 kru kami dan kokpit yang terpengaruh dari kondisi tersebut (tutupnya bandara Bali dan Lombok akibat erupsi Gunung Agung)," kata Pahala di Terminal III Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat (8/12).

Jumlah tersebut cukup banyak karena sekitar 30 persen penumpang Garuda menurutnya memang tujuannya dari dak menuju Bali. Akibat adanya penutupan, Pahala mengatakan hal itu membuat Garuda perlu melakukan penjadwalan ulang untuk seluruh kru yang tertahan.

Dengan perubahan yang cukup masif, kata Pahala, hal itu berdampak terhadap jadwal penerbangan. "Adanya perubahan tersebut kemudian juga harus dilakukan bersama-sama sehingga sistem kami mengalami kendala sehingga itu (pembatalan dan penundaan penerbangan) yang terjadi dan puncaknya di tanggal 1 Desember 2017," ujar Pahala.

Dia menjelaskan masalah tersebut mengakibatkan penurunan jumlah kru yang tersedia dan kinerja sistem Garuda. Hal itu menurutnya cukul menyulitkan untuk melakukan penugasan kepada kru dengan tepat waktu.

Sementara itu, Manager Public Relation Garuda Indonesia Ikhsan Rosan menjelaskan meski ada penurunan kru dan sistem, Garuda tetap menerapkan proses untuk pergantian awak kabin. "Kita estimasi waktunya 15 jam. Kalau sudah terbang sembilan jam harus istirahat 15 jam, itu untuk keamanan," jelas Ikhsan.

Ikhsan tak memungkiri banyak penumpang yang protes mempertanyakan ada pilot dan pesawat namun tetap tidak diberangkatkan. Sebab peraturan waktu istirahat 15 jam tetap harus dilakukan demi keamanan saat penerbangan dilakukan.

Meskipun begitu, saat ini Pahala sudah memastikan penerbangan Garuda sudah kembali normal. Dia menjelaskan operasional penerbangan Garuda saat ini sudah 97 persen menuju kondisi semula tidak seperti pada akhir pekan lalu.

Berita Lainnya

Rekomendasi