Senin 13 Nov 2017 15:27 WIB

Suplai Berlebih Picu Jatuhnya Harga Lada Petani 

Rep: Halimatus sadiyah/ Red: Dwi Murdaningsih
Merica
Merica

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kementerian Perdagangan mengakui ada tren penurunan harga pada komoditas lada di pasar global. Direktur Perundingan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dan Organisasi Internasional, Kementerian Perdaganga, Deny Wachyudi Kurnia, menyebut, harga rata-rata lada saat ini berada di kisaran Rp 50 ribu per kilogram di tingkat petani dan Rp 80 ribu per kilogram di tingkat eksportir. Padahal, dua tahun lalu, harga komoditas tersebut sempat menyentuh angka Rp 150 ribu per kilogram. 

Menurut Deny, anjloknya harga itu dipicu oleh berlebihnya pasokan lada di pasar global. Namun, kelebihan pasokan tersebut bukan disumbang oleh Indonesia, melainkan oleh Vietnam. 

"Produksi kita konstan, 75 ribu-85 ribu ton per tahun. Vietnam yang punya kapasitas untuk mencegah over-supply," kata Deny, di Kantor Kementerian Perdagangan, Senin (13/11). 

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai produsen lada nomor dua di dunia setelah Vietnam dengan produksi rata-rata 82.000 ton lada per tahun. Sementara, Vietnam mampu memproduksi lada sebanyak 160.000 ton per tahun.

Untuk mengembalikan harga lada ke level normal, Deny sendiri mendorong agar International Pepper Community (IPC) mengambil peran lebih. Sebab, menurutnya, organisasi yang beranggotakan negara-negara penghasil lada tersebut masih hanya berfokus di persoalan tanaman. 

"Di IPC perhatian masalah penanganan harga tidak sepenuhnya maksimal karena banyak masalah lain yang dilihat, termasuk bibit, hama dan kualitas," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement