Kamis 19 Oct 2017 14:43 WIB

BTPN Syariah Sasar Pelaku Usaha Perempuan

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Dwi Murdaningsih
Diskusi bertajuk Inklusi Keuangan dan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pembiayaan Syariah yang menghadirkan pembicara Ekonom Core Indonesia Hendri Saparini dan Dirut BTPN Syariah Ratih Rachmawaty, di Kantor BTPN Sinaya Cabang Dago, Kota Bandung, Kamis (19/10).
Foto: Republika/Edi Yusuf
Diskusi bertajuk Inklusi Keuangan dan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pembiayaan Syariah yang menghadirkan pembicara Ekonom Core Indonesia Hendri Saparini dan Dirut BTPN Syariah Ratih Rachmawaty, di Kantor BTPN Sinaya Cabang Dago, Kota Bandung, Kamis (19/10).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Republika bekerjasama dengan Bank BTPN Syariah menggelar diskusi mengenai inklusi keuangan bagi perempuan. Mengangkat tema 'Inklusi Keuangan & Pemberdayaan Perempuan Melalui Pembiayaan Syariah' diskusi menghadirkan Pendiri dan Direktur Eksekutif CORE Indonesia Hendri Saparini serta Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawaty. 

Selama ini, dalam menyalurkan pembiayaan, BTPN Syariah memang menyasar pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) perempuan. "Kami fokus pada kaum perempuan dari segmen prasejahtera produktif karena perempuan punya peran penting dalam perekonomian keluarga," ujar Ratih, di sela diskusi, Kamis, (19/10).
 
Ia menjelaskan, melalui filosofi 'do good do well' BTPN Syariah tidak hanya memberikan pembiayaan tapi juga memberikan pendampingan. Pendampingan itu dikemas sedemikian rupa agar memiliki empat perilaku unggul yakni berani berusaha, disiplin, kerja keras, serta saling bantu. 
 
"Berkat perilaku unggul tersebut. Kini kami lihat banyak nasabah yang mampu menyekolahkan anaknya. Banyak juga nasabah kami yang telah mengganti kayu sebagai bahan bakar memasak menjadi gas," tutur Ratih. 
 
Sebagai informasi, sampai Juni 2017, total aset BTPN Syariah sudah mencapai Rp 8,09 triliun atau naik 21 persen dari periode sama sebelumnya. Segmen perempuan prasejahtera profuktif yang telah dibiayain pun lebih dari 2,77 juta nasabah dengan total pembiayaan Rp 5,77 triliun. 
 
Ratih menyebutkan, nasabah yang diberdayakan sudah hampir di seluruh Indonesi termasuk di wilayah Indonesia Timur. Hanya saja mayoritas pembiayaan disalurkan ke Pulau Jawa sebagai pusat Indonesia. 
 
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Hendri Saparini menyatakan, UMKM memang berpotensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi negara. Sebab, pelaku UMKM sudah menembus 58 juta. 
 
"Sebanyak 99 persen di antaranya pelaku mikro. Dari seluruh pelaku UMKM baru sekitar sepertiganya yang bisa mengakses pembiayaan dari perbankan," kata Hendri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement