Rabu 31 May 2017 01:15 WIB

F-PKS: Asumsi Makro Sektor Energi 2018 Relatif Stagnan

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Budi Raharjo
Harga minyak mentah Indonesia (ICP). (ilustrasi).
Foto: Reuters
Harga minyak mentah Indonesia (ICP). (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi’ Munawar menanggapi target Pemerintah dalam asumsi makro ekonomi sektor energi di tahun 2018 relatif stagnan. Hal ini terlihat dari asumsi harga minyak mentah yang masih konservatif pada kisaran 45 – 60 dolar AS per barel dan angka lifting minyak 771 ribu – 815 ribu bph (barel per hari) seperti tahun lalu.

“Terkait asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada kisaran 45-60 dolar AS per barel. Fraksi PKS berpendapat bahwa ICP pada tahun 2018 akan masih fluktuatif disebabkan oleh pengaruh supply and demand, juga geopolitik di beberapa negara penghasil minyak,” ucap Rofi Munawar dalam rilis pers yang disampaikan kepada media pada hari Selasa (30/5) di Jakarta.

Berdasarkan siaran pers yang diterima Republika.co.id, proyeksi IMF bahwa pertumbuhan ekonomi global pada 2017 dan 2018 akan mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan 2016. Maka pertumbuhan tersebut akan memengaruhi peningkatan permintaan minyak bumi. Namun, terdapat kemungkinan bawah negara-negara OPEC dan non-OPEC yang menyatakan akan kembali memotong produksinya hingga 2018.

“Fraksi PKS mendorong pemerintah untuk lebih cermat dalam memprediksi harga minyak dunia dan trend-nya kedepan, sehingga dapat dilakukan perhitungan yang lebih akurat dalam menentukan ICP. Pemerintah juga perlu mengembangkan mekanisme lindung nilai (hedging) yang memungkinkan untuk stabilisasi," ujarnya

Sementara itu Ketua Komisi VII Fraksi PKS ini menambahkan, terhadap target pemerintah perihal lifting minyak pada 2018 sebesar 771 ribu-815 ribu bph (barel per hari). Fraksi PKS menyayangkan terjadi stagnasi target untuk 2018. Pemerintah memberi target optimis sebesar 815 ribu bph yang tidak ada perbedaan dengan tahun sebelumnya. Bahkan terdapat target pesimistis menurun yaitu hingga rentang minimal 771 ribu bph.

“Hal ini menandakan bahwa upaya pemerintah masih dirasakan kurang sehingga pengelolaan sektor migas nasional mengalami kemunduran yang sangat signifikan dan berlangsung terus menerus serta tidak dianstisipasi dengan baik.” kata Rofi.

Fraksi PKS memahami sekali terkait dengan permasalah mendasar yang dihadapi dalam lifting minyak bumi yaitu seperti sumur yang tua, rendahnya investasi dan hubungan kelembagaan antarpengelola dan pemerintah yang selalu menjadi lingkaran jebakan dan tidak terselesaikan hingga saat ini.

Fraksi PKS mendorong pemerintah perlu melakukan terobosan baru untuk dapat mencapai target tersebut. Faktor penting dan mendesak di antaranya adalah penyelesaian perubahan RUU Migas yang diharapkan akan memberikan dampak signifikan dalam menggairahkan kembali investasi di sektor Migas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement