Jumat 07 Apr 2017 20:34 WIB

SKK Migas Bidik Produksi Minyak di Atas Target Pemerintah

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nur Aini
Sekertaris SKK Migas, Budi Ariyanto menjelaskan capaian proyek hulu migas dan target SKK Migas 2017 di Hotel Aston Anyer, Jumat (7/4).
Foto: Republika/Intan Pratiwi
Sekertaris SKK Migas, Budi Ariyanto menjelaskan capaian proyek hulu migas dan target SKK Migas 2017 di Hotel Aston Anyer, Jumat (7/4).

REPUBLIKA.CO.ID,CILEGON -- SKK Migas menargetkan produksi minyak mentah pada 2017 ini hingga 815,6 ribu barel per hari. Angka ini di atas dari target yang dipasang oleh pemerintah yaitu 815 ribu barel per hari dan rencana kerja kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sebesar 808,4 ribu barel per hari. Sekretaris SKK Migas, Budi Ariyanto mengatakan produksi minyak yang bisa dicapai oleh SKK Migas pada 2017 ini karena didukung produksi blok Banyu Urip, Cepu, Bojonegoro.

Budi mengatakan pada tahun ini setidaknya ada 85 wilayah kerja yang bisa memproduksi total minyak mentah ini. Dari total 227 wilayah kerja setidaknya 85 wilayah kerja ini bisa menyumbang 815,6 ribu barel per hari untuk menutup kebutuhan minyak mentah dalam negeri.

Namun, Budi mengatakan, target ini tak banyak berubah dibanding 2016 lalu. Sebab, pada pada 2016-2017 tak ada kegiatan eksplorasi blok minyak sehingga mengandalkan yang ada saja. Hanya satu blok yaitu Blok Banyu Urip di Cepu yang memang masih memiliki cadangan yang cukup untuk diproduksi.

"Kita bisa melampaui target karena ada sumur baru yaitu, Banyu Urip. Namun, memang sisa dari blok yang ada adalah blok mature atau blok tua yang kapasitas produksinya sudah mulai menurun," ujar Budi di Hotel Aston, Anyer, Jumat (7/4).

Pada 2016 lalu, SKK Migas menargetkan produksi minyak mentah pada 817,5 ribu barel per hari. Angka tersebut merupakan revisi dari rencana kerja wilayah kerja yang dilakukan oleh KKKS. Namun, pada November 2016 tercatat, produksi total minyak mencapai 833 ribu barel per hari.

Menurutnya, produksi minyak siap jual atau lifting memang tak bisa melampaui target. Hal ini dikarenakan adanya faktor cuaca yang membuat kapal kapal tangker pengankut minyak tidak bisa berlayar. Ia mengatakan, target lifting ini kemudian mempengaruhi pendapatan negara.

Budi mengatakan, pada tahun ini negara menargetkan lifting minyak 815 ribu barel per hari yang artinya semua produksi minyak bisa langsung tersalurkan. Nyatanya, pada kuartal satu 2017 ini SKK Migas hanya bisa merealisasikan sekitar 787,8 barel per hari. Sedangkan kapasitas lifting pada wilayah kerja tercatat bisa mencapai 808,4 ribu barel per hari. "Faktor cuaca memang jadi kendala utama. Apalagi banyak dari blok blok tersebut yang memang masih berada di offshore. Maka, karena faktor cuaca yang sedang tak menentu membuat kapal kapal tangker tak bisa berlayar," ujar Budi.

Pada 2016 tercatat, SKK Migas bisa memproduksi minyak siap jual sebesar 822 ribu barel per hari. Hal ini melampaui target yang dipasang pemerintah sebesar 820 ribu barel per hari. Maksimalnya produksi lifting pada 2016 disokong dari produksi blok Banyu Urip, Cepu yang bisa memproduksi hingga 185 ribu barel per hari pada tahun lalu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement