Kamis 09 Mar 2017 19:45 WIB

Krisis Garam Efek dari Anomali Cuaca Tahun Lalu

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Winda Destiana Putri
Garam
Foto: pixabay
Garam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Industri Kecil Menengah (IKM) Pangan, Barang dari Kayu dan Furniture, Kementerian Perindustrian, Sudarto menyebut, kelangkaan garam konsumsi beryodium saat ini terjadi sebagai dampak dari anomali cuaca La Nina yang terjadi di tahun sebelumnya. La Nina membuat hujan turun sepanjang tahun yang menyebabkan ladang garam gagal panen. 

"Tahun 2016 itu kita bisa dikatakan hampir tidak ada panen sepanjang tahun," ujarnya, saat dihubungi Republika, Jumat (9/3). Efek dari anomali cuaca tersebut baru terasa satu tahun setelahnya. Karenanya, menurut Sudarto, garam yang dikonsumsi masyarakat saat ini adalah sisa-sisa stok dari tahun 2015 dan 2016. 

Sudarto menyebut, ada sekitar 366 industri berskala kecil dan menengah yang mengolah garam dan garam beryodium di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, ia memperkirakan hanya sekitar 60 persen yang masih berproduksi karena tidak ada stok bahan baku. Itu pun tak semua industri beroperasi penuh dalam sebulan. 

Kendati begitu, Sudarto mengatakan krisis garam yang terjadi relatif tidak memengaruhi industri makanan dan minuman. Sebab,  industri pasti memiliki stok garam yang sudah mereka amankan hingga tiga bulan ke depan. "Meski periode ini krisis tapi industri belum terganggu karena garam pasti sudah diamankan." 

Namun, sambung Sudarto, jika hujan terus turun meski sudah melewati bulan Mei, itu berarti alarm bagi pemerintah untuk segera mencari solusi agar stok garam konsumsi beryodium tetap aman. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement