REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Nilai ekspor Provinsi Jawa Timur pada Januari 2017 tercatat mengalami penurunan sebesar 11,49 persen dibandingkan ekspor pada Desember 2016. Penurunan nilai ekspor tersebut menyebabkan neraca perdagangan Jatim pada Januari 2017 desifit 380 juta dolar AS.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono, menyebutkan nilai ekspor Jatim pada Januari 2017 sebesar 1,36 miliar dolar AS, turun 11,49 persen dibandingkan Desember 2016 yang mencapai 1,54 miliar dolar AS. Nilai ekspor migas Jatim pada Januari 2017 naik 178,4 persen, sedangkan nilai ekspor non migas turun 12,85 persen. Penurunan nilai ekspor ini dikarenakan delapan dari 10 komoditas utama ekspor Jatim mengalami kontraksi.
“Ada dua kelompok barang yang ekspornya masih positif yakni bahan kimia organik yang naik 4,06 persen, serta perabot dan penerangan rumah yang tumbuh 3,85 persen. Nilai ekspor kelompok barang lainnya turun,” kata Teguh dalam konferensi pers di kantor BPS Jatim, Surabaya, Kamis (16/2).
Kelompok barang yang nilai ekspornya mengalami kontraksi yakni, lemak dan minyak hewan/nabati turun 22,04 persen, perhiasan/permata turun 9,86 persen, tembaga turun 5,63 persen, kayu dan barang dari kayu turun 22,71 persen, ikan dan udang turun 28,55 persen, kertas/karton turun 1,05 persen, berbagai produk kimia turun 15,83 persen, serta alas kaki turun 0,55 persen.
“Selama Januari 2017, ekspor non migas Jatim didominasi oleh kelompok barang lemak dan minyak hewan/nabati senilai 115,9 juta dolar AS, perhiasan/permata senilai 114,14 juta dolar AS, dan tembaga senilai 102,12 juta dolar AS. Bulan-bulan sebelumnya, kelompok perhiasan/permata menjadi komoditas dengan nilai ekspor paling tinggi di Jatim,” imbuh Teguh.
Sementara impor Jatim pada Januari 2017 tercatat sebesar 1,74 miliar dolar AS atau turun 13,30 persen dibandingkan Desember 2016 yang mencapai 2,01 miliar dolar AS. Impor migas Jatim pada Januari 2017 mengalami kenaikan 123,51 persen, sementara impor nonmigas turun 19,28 persen.
Dari 10 komoditas impor utama Jatim, enam kelompok barang mengalami kontraksi, sedangkan empat lainnya naik cukup signifikan. Kelompok yang mengalami kenaikan nilai impor yakni, biji-bijian berminyak naik sebesar 97,27 persen, pupuk naik 62,9 persen, bahan kimia organik naik 57,05 persen, serta plastik dan barang dari plastik naik 6,07 persen.
Impor Jatim pada Januari 2017 didominasi oleh kelompok mesin-mesin/peralatan mekanik senilai 173,95 juta dolar AS, plastik dan barang dari plastik senilai 91,66 juta dolar AS, besi dan baja senilai 90,87 juta dolar AS, serta perhiasan/permata senilai 82,05 juta dolar AS.
“Impor barang konsumsi Jatim turun 26,15 persen, impor bahan baku/penolong naik 29,79 persen, sedangkan impor barang modal naik 39,20 persen,” ujarnya.