Rabu 01 Feb 2017 16:10 WIB

Modal Awal Bank Wakaf Ventura Rp 1 Triliun

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nur Aini
Tradisi wakaf (ilustrasi).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Tradisi wakaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) telah mematangkan konsep pembentukan bank wakaf ventura yang akan didirikan pada Juni 2017. Rencananya modal awal lembaga wakaf ini  sebesar Rp 1 triliun.

Anggota Pokja Pembentukan Bank Wakaf Ventura sekaligus Wakil Bendahara ICMI, Suhaji Lestiadi menyebutkan, dalam awal pembentukannya, modal dasar sebesar Rp 1 triliun dengan modal awal disetor minimal Rp 200 miliar.

"Modal awal disetor Rp 200 miliar yang setiap tahunnya akan bertambah sesuai dengan penghimpunan dana wakaf. Dari ICMI modal dasar inginnya Rp 1 trilliun. Presiden menyatakan ingin jadi yang memodali pertama kali, sedang didiskusikan," ujar Suhaji saat diskusi ICMI di Jakarta, Rabu (1/2).

Suhaji menuturkan, dengan adanya bank wakaf ini akan mendorong pemerintah memiliki sumber dana umat untuk diaktualisasikan. Selain itu, bank wakaf ini akan mensinergikan lembaga-lembaga wakaf yang sudah ada.

Menurut Suhaji, potensi dana wakaf sangat besar, tetapi saat ini penghimpunannya masih sangat kecil yakni hanya sebesar Rp 20 miliar-40 miliar. "Rencananya bank wakaf ini akan launching sekitar sebelum Ramadhan atau pada Juni 2017. Pengumpulan modalnya akan dilakukan sekitar 1-2 bulan lagi dari sekarang," ungkapnya.

Sementara itu pemegang saham berasal dari ormas Islam. Pada tahap awal, diperkirakan akan ada 20 ormas Islam sebagai pemegang saham, dengan tiga pemegang saham pengendali. Adapun tiga pemegang saham pengendali yakni Baznas, Badan Wakaf Indonesia dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Wakil Ketua ICMI Sugiharto mengatakan, tujuan berdirinya bank wakaf ventura ini yaitu untuk mengangkat ekonomi kerakyatan yang selama ini belum tertangani maksimal. "Karena itu, sasaran utama dari bank wakaf ini adalah pemberdayaan kelompok UMKM, sehingga bakal menggerakkan roda ekonomi umat," kata Sugiharto.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement