Rabu 16 Nov 2016 20:12 WIB

Hasil Tangkapan Ikan Berkurang, Harga Ikan Naik

Rep: lilis handayani/ Red: Budi Raharjo
Aktivitas nelayan membongkar muat ikan. (ilustrasi)
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Aktivitas nelayan membongkar muat ikan. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Hasil tangkapan ikan oleh nelayan di Desa Glayem, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, menurun akibat faktor cuaca dan gelombang yang tak menentu. Hal itupun berdampak pada naiknya harga ikan di pasaran.

Sekretaris KUD Sri Mina Sari Glayem, Dedi Aryanto menjelaskan, dalam kondisi normal, hasil tangkapan nelayan dalam satu hari melaut rata-rata mencapai lebih dari Rp 1 juta. Namun saat ini, hasil tangkapan nelayan hanya di kisaran Rp 500 ribu – Rp 800 ribu. "Kondisi ini sudah terjadi sejak dua minggu terakhir," ujar Dedi kepada Republika, Rabu (16/11).

Dedi mengatakan, kondisi saat ini sangat merugikan nelayan. Pasalnya, dari hasil melaut itu, harus dipotong biaya melaut sebesar Rp 500 ribu. "Bayangkan kalau hasil melautnya saja Rp 500 ribu, sedangkan biaya melautnya juga Rp 500 ribu. Tidak ada yang bisa diperoleh nelayan," kata Dedi.

Dedi menyebutkan, kapal nelayan di desanya merupakan kapal kecil berukuran 5 – 9 gross ton (GT). Setiap kapal, beranggotakan enam sampai 15 orang anak buah kapal (ABK), tergantung ukuran kapalnya. Mereka hanya berlayar di sekitar perairan Indramayu saja.

Dedi mengatakan, berkurangnya hasil tangkapan nelayan itu secara otomatis membuat harga ikan menjadi naik. Apalagi, dalam waktu bersamaan, permintaan ikan juga tetap tinggi. Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah makan di daerah Indramayu dan Cirebon, hasil tangkapan nelayan Glayem juga dikirimkan ke Jakarta.

"Harga ikan naik di kisaran 10 – 20 per persen," terang Dedi.

Seperti ikan bawal, yang semula di kisaran Rp 25 ribu per kilogram (kg) kini sudah di atas Rp 30 ribu per kg. Selain itu, cumi yang awalnya hanya Rp 30 ribuan per kg, kini sudah mencapai Rp 40 ribu per kg.

Sementara itu, ketika ditanyakan mengenai penyebab berkurangnya hasil tangkapan nelayan, Dedi menyebutkan, hal itu terjadi karena kondisi cuaca dan gelombang yang tidak menentu. Akibatnya, ikan menjadi sulit ditangkap.

Salah seorang nelayan, Wasdi, menuturkan, hasil tangkapan selama dua minggu terakhir memang sulit. Dia bahkan pernah tidak memperoleh hasil tangkapan sama sekali. "Pusing kalau seperti ini. Hasil tangkapan minim, tapi asap dapur harus tetap mengepul," tandas Wasdi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement