Sabtu 14 May 2016 08:09 WIB

IMF Peringatkan Bahaya Brexit Bagi Inggris

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde.
Foto: AP
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde pada Jumat (13/5) memperingatkan bahwa jika Inggris meninggalkan Uni Eropa (Brexit) sebagai hasil dari referendum 23 Juni, Inggris bisa mengalami kejatuhan pasar saham dan penurunan harga rumah.

"Kami telah melihat semua skenario. Kami telah melakukan pekerjaan rumah kami dan kami belum menemukan sesuatu yang positif untuk mengatakan tentang pemilihan Brexit," kata Lagarde dalam konferensi pers di Departemen Keuangan Inggris di London yang diadakan untuk meluncurkan penilaian tahunan IMF atas ekonomi Inggris.

Penilaian, dilakukan pada semua negara anggota IMF setiap tahun, memperingatkan bahwa pilihan untuk meninggalkan Uni Eropa dalam referendum akan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan dan merusak output (keluaran) Inggris. 

Dampak-dampak ini akan dirasakan dalam jangka pendek, namun laporan itu juga meramalkan masalah jangka panjang, termasuk penurunan peringkat London sebagai pusat keuangan global, dan transfer struktur pasar valuta asing London yang dominan ke dalam zona euro.

IMF mengatakan dalam laporan ini bahwa status London sebagai pusat keuangan global juga bisa tergerus, karena perusahaan yang berbasis di Inggris mungkin kehilangan hak-hak passporting mereka untuk menyediakan layanan keuangan ke seluruh Uni Eropa dan banyak bisnis dalam mata uang euro mungkin seiring perjalanan waktu pindah ke negara Eropa lain.

Laporan ini mencatat bahwa dalam hal referendum memilih untuk tetap di Uni Eropa, pertumbuhan PDB Inggris akan rebound pada semester kedua tahun ini, dengan penarikan terkait referendum di tahun pertama mengakibatkan pertumbuhan dua persen tahun ini. Namun, 2017 diperkirakan menikmati pertumbuhan kuat, di 2,25 persen.

IMF memperkirakan bahwa inflasi, saat ini di 0,5 persen, akan naik menuju angka target dua persen, karena pengaruh harga-harga komoditas keluar dari angka-angka dan efek pengangguran rendah mendorong kenaikan upah.

Beralih ke struktur peraturan Inggris, IMF mencatat bahwa gelombang reformasi peraturan sejak krisis keuangan berarti bahwa bagian-bagian utama dari sistem keuangan Inggris kelihatan tangguh. Bank-bank memiliki lebih dari dua kali lipat rasio modal tertimbang menurut risiko dari tingkat pra-krisis, memperkuat likuiditas dan telah mengurangi leverage.

"Uji ketahanan (stress test) menunjukkan bahwa unsur-unsur utama dari sistem keuangan seperti bank-bank besar, perusahaan asuransi, manajer aset, dan central counterparties tampak tangguh dalam menghadapi guncangan," kata IMF.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement