REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNG KIDUL -- Pelaku industri kecil menengah di Pedukuhan Sumberjo, Ngawu, Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sutirahayu mengolah singkong menjadi beras mocaf untuk meningkatkan nilai jual produk pertanian. "Awalnya prihatin dengan kondisi harga singkong mentah di Gunung Kidul yang hanya Rp 2.000 per kilogram. Kemudian, kami melakukan uji coba membuat beras mocaf," kata Sutirahayu di Gunung Kidul, Selasa (3/5).
Ia mengatakan awal dirintisnya pembuatan beras mocaf ini sejak September 2015. Sampai saat ini kelompok usaha pembuatan beras mocaf sudah memiliki enam pekerja. "Semua tergabung dalam Kelompok Tani Putri 21, kalau kelompoknya sudah ada sejak 2009 namun usaha beras mocafnya baru dirintis September 2015," katanya.
Sutirahayu mengungkapkan dia dan kelompoknya membuat lebih dari empat ton bahan baku menjadi berbagai aneka olahan. Selain beras mocaf, juga ada beras pisang maupun beras sukun atau mie pisang atau mie sukun.
"Di sini sebetulnya tidak hanya beras mocaf saja, tetapi mie dari singkong yang dinamai mie ayo maupun berbagai olahan lain yang bahannya berasal dari warga sini," kata dia.
Ia mengatakan dalam pembuatan beras, komposisi bahan sebanyak 80 persen bahan baku singkong dan sisanya merupakan tepung jagung dan juga tepung tapioka. Lalu, adonan yang ada dikukus di dalam wadah hingga menggumpal. Selanjutnya digiling menggunakan alat khusus agar menjadi butiran beras.
"Harga yang dipatok lebih mahal dari beras pada umumnya, yakni Rp 18 ribu per kg. Namun kami juga menjual dengan kemasan setengah kilogram dengan harga Rp 9.000," ujarnya.
Dengan pengembangan beras mocaf ini diharapkan mampu mengangkat harga singkong yang banyak ditemui di Gunung Kidul. "Ke depan diharapkan bisa mengangkat makanan Gunung Kidul," katanya.