Jumat 11 Mar 2016 14:56 WIB

Virus Kuning Penyebab Harga Cabai Meroket

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Teguh Firmansyah
 Pedagang menata cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Senin (7/3).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Pedagang menata cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Senin (7/3).

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Ratusan petani cabai di wilayah Banyumas, Banjarnegara hingga Wonosobo, mengeluhkan menyebarnya virus kuning pada tanaman mereka. Penyakit yang ditularkan oleh sejenis serangga sejenis wereng padi tersebut menyebabkan daun tanaman menguning, keriting, layu dan rontok sehingga menyababkan tanaman mati.

Banyaknya tanaman cabai yang terserang penyakit ini, menyebabkan produksi cabai turun drastis sehingga harga meroket. Berdasarkan pantauan di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Banyumas, harga cabai saat ini melonjak hingga Rp 48 ribu per kg. Sementara di tingkat pengecer bisa mencapai Rp 60 ribu per kg.  "Hampir setiap hari harga cabai naik. Naiknya tidak hanya Rp 100-Rp 200, tapi sampai  antara Rp 2000 hingga Rp 3000 per kg," jelas Yani (45), pedagang sayur yang berkeliling dengan sepeda di wilayah Kecamatan Purwokerto Selatan.

Di Pasar Patikraja Kabupaten Banyumas, harga cabe juga dijual cukup tinggi. Dasem (45), pedagang sayur dan bumbu yang menempati salah satu los di pasar tersebut, mengaku harga cabai mengalami kenaikan sejak dua pekan silam. ''Normalnya, harga cabai meras keriting paling tinggi Rp 23 ribu per kg. Tapi sekarang mencapai Rp 50 ribu per kg,'' jelasnya.

Dia mengaku mendapat pasokan cabai kuning dari para tengkulak yang membeli hasil panen petani langsung dari petani di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. "Kabarnya, harga cabai naik karena banyak tanaman yang terserang penyakit," katanya.

Baca juga, Harga Cabai Merah Semakin Pedas.

Dari pemantauan di salah satu sentra pertanian penghasil cabai Desa Cikembulan Kecamatan Pekuncen, saat ini banyak tanaman cabai petani yang terserang penyakit. Penyakit tanaman yang disebut petani penyakit Bulai ini, ditandai dengan warna daun muda yang menguning, sedangkan yang masih hijau mengeriting.

"Penyakit ini mulai menyerang sejak dua pekan lalu saat tanaman cabai kami dalam masa puncak produksi," jelas Sudaryo (45), salah seorang petani. Padahal kebanyakan petani baru memanen petik 6 kali, dari kondisi normal bisa 12 kali petik.

Dia mengaku, semua petani cabai sudah berupaya mengatasi penyakit ini dengan menyemprotkan obat tanaman dan insektisida pembasmi hama. "Namun semua upaya tersebut tidak ada hasilnya. Kalau sudah begini, tanaman hanya tinggal menunggu mati saja," jelasnya.

Kondisi yang sama juga terjadi di sentra pertanian cabai di Kabupatan Banjarnegara. Virus kuning bahkan menyerang tanaman cabai di wilayah pegunungan, seperti Kecamatan Pagentan, Pejawaran, Karangkobar, Wanayasa dan sentra cabe besar di Kecamatan Bawang, Purwonegoro, Mandiraja, dan Susukan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement