Jumat 09 Oct 2015 14:07 WIB

KKP Alokasikan Rp 240 Miliar untuk Industri Rumput Laut

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nidia Zuraya
Penduduk menjemur rumput laut di Pulau Nusa Lembongan, Bali, Sabtu (21/12).   (Republika/Edi Yusuf)
Penduduk menjemur rumput laut di Pulau Nusa Lembongan, Bali, Sabtu (21/12). (Republika/Edi Yusuf)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan anggaran Rp 240 miliar untuk program peningkatan nilai tambah produk rumput laut Indonesia. Anggaran tersebut nantinya akan digunakan untuk membangun 8 unit gudang penyimpanan dan 10 pabrik pengolahan rumput laut.

Menurut Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kementerian KKP Nilanto Perbowo, pagu anggaran yang disiapkan KKP untuk membangun 8 unit gudang rumput laut sebesar Rp 40 miliar atau Rp 5 miliar per gudang. Sementara untuk keperluan pembangunan 10 pabrik pengolahan rumput laut, akan dialokasikan anggaran sebesar Rp 200 miliar.

"Pabrik rumput laut  akan dibangun di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jakarta, dan Sumatra Utara," kata Nilanto di Jakarta, Jumat (9/10).

 

Ketua Umum Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) Soeryanto mengungkapkan, pendirian pabrik baru bisa dilakukan selama kebutuhan pasar tetap ada, atau malah meningkat. "Nah yang terbaik adalah dilakukan revitalisasi industri yang sudah ada. Atau industri yang sudah ada didorong saja. Kami sudah ada 30 industri yang sudah ada. Ini harus didorong sehingga serapan akan lebih tinggi," ujar Soeryanto.

Dari 30 industri yang telah ada, lanjutnya, 16 di antaranya bergerak dalam pengolahan kareginan dan sisanya pengolahan tepung agar-agar.

Selain dukungan berupa anggaran pembangunan pabrik, pemerintah juga memberikan kemudahan kepada petani untuk bisa mengakses dana perbankan. Petani bisa menyimpan komoditi rumput lautnya pasca panen apabila harga sedang anjlok atau pasokan berlimpah di gudang yang telah tersertifikasi. Sebagai gantinya, pihak gudang akan memberikan resi gudang yang bisa digunakan untuk mengajukan pinjaman kepada perbankan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement