Kamis 17 Sep 2015 16:41 WIB

Penjajakan Kerja Sama 'Garuda' dengan 'Beruang Merah'

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Djibril Muhammad
Rizal Ramli
Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Rizal Ramli

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia membuka peluang kerja sama dengan Negeri Beruang Merah, Rusia. Hal ini terungkap usai pertemuan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Y Galuzin di Kantor Kemenko Kemaritiman di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (17/9).

Usai pertemuan yang berlangsung sekitar setengah jam, Rizal mengatakan, dilakukan untuk membahas sejumlah kemungkinan adanya kerja sama kedua negara baik dalam sektor infrastruktur maupun energi, seperti minyak, gas, dan nuklir.

Sebetulnya, ia katakan, begitu banyak hal yang dibahas, meski pada akhirnya lebih memfokuskan diri pada sejumlah isu energi dan infrastruktur.

"Pagi ini kami bertemu Dubes Rusia, dalam rangka tingkatkan hubungan kerja sama bisnis perdagangan dengan Rusia," ujar Rizal.

Rusia, menurut dia, negara yang punya segudang pengalaman dalam bidang gas, termasuk pengekspor gas besar dunia, ke Eropa dan Cina. Banyak hal, kata Rizal, yang mungkin bisa dilakukan dengan Rusia.

Selain itu, Rizal juga mengatakan adanya peluang kerja sama dengan Rusia dalam hal infrastuktur yang dicanangkan Presiden Jokowi, yang menginginkan adanya pemerataan pembangunan di seluruh daerah di Indonesia yang disertai dengan konsep kemaritiman.

"Kalian tahu, Presiden kita sangat ingin bangun tol laut ke seluruh wilayah di Indonesia," lanjutnya.

Rusia, ia menambahkan, memiliki pengalaman hebat dan jaringan yang kuat dalam hal infrastruktur maritim. Indonesia melihat hal itu sebagai satu peluang besar kerja sama demi menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Rizal menambahkan, pertemuan tersebut, juga membuka peluang untuk menyelesaikan pembangunan jalur rel kereta api dari Kalimantan Tengah ke Kalimantan Timur yang mangkrak selama tiga tahun.

"Kita ekspor kemungkinan ini, termasuk juga rencana pembangunan jalan kereta api dari Kalteng ke Kaltim yang selama ini 'mandeg'," sambungnya.

Dengan menggandeng Rusia yang ia nilai memiliki kapasitas mumpuni dalam hal pengelolaan teknologi, dapat membuka jalan untuk segera membereskan mangkraknya jalur kereta api tersebut. Rusia, tampak tak main-main mengajak kerja sama dengan Indonesia.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Y Galuzin mengatakan, banyak potensi kerjasama yang yang digali antara Indonesia dengan Rusia, seperti pembangunan infrastruktur di Indonesia.

"Perusahaan kita dapat terlibat‎ di industri perkapalan, perikanan, ekspor minyak dan gas dari Rusia, serta soal energi nuklir," katanya.

Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan Rusia juga mampu mendorong konsep maritim yang tengah diusung Pemerintah Indonesia, termasuk pembangunan galangan kapal di Indonesia.

Mikhael menjelaskan, Rusia mempunyai industri galangan kapal yang sangat maju, salah satunya untuk membenahi kapal berukuran kecil dan sedang.

Ia berharap, hal tersebut dapat menjadi pertimbangkan bagi Pemerintah Indonesia, mengingat negara Indonesia memang dikenal dengan negara kepulauan.

Selain itu, sebagai negara dengan jumlah penduduk ketujuh terbesar di dunia setelah Cina, India, Amerika Serikat, Indonesia, Brasil, dan Pakistan, ia mengaku, potensi tersebut dapat dimanfaatkan Indonesia dalam meningkatkan potensi pariwisatanya.

"Kita akan mendorong orang Rusia datang ke Indonesia dan sebaliknya," katanya menegaskan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement