Senin 31 Aug 2015 13:47 WIB

Respons Lesunya Pasar Modal, Emiten Mulai Lakukan Buyback Saham

Rep: Risa Herdahita Putri/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Layar elektronik menunjukkan pergerakkan harga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/8).
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Layar elektronik menunjukkan pergerakkan harga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah mulai melakukan pembelian kembali (Buyback) saham. Namun, kebijakan yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait buyback tanpa RUPS ini rupanya dinilai memiliki kendala bagi sejumlah emiten.

Analis NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada menilai di tengah kondisi saat ini, ada kecendrungan emiten untuk menahan pengeluaran dana. Dari sisi BUMN misalnya, meski dari Kementerian BUMN telah ada izin untuk melakukan buyback saham, hal ini masih menjadi pertimbangan, terutama soal dana yang harus dikeluarkan.

"Permintaan sedang melambat income perusahaan menurun, saat ini semua pada mengerem pengeluaran," katanya, Senin (31/8).

Apalagi, ia pun melihat kebijakan buyback ini hanya akan berefek sementara. Buyback yang diharapkan akan bisa mengangkat kembali kondisi pasar, dipandang tidak akan memberi jaminan perbaikan kondisi dalam jangka waktu lama.

"Akhirnya buyback ini dimanfaatkan untuk wait and see sebagai jalan profit taking," lanjut dia.

Di sini, Reza justru memandang pencarian alasan mengapa pasar memburuk lebih bisa menjadi jalan untuk memperbaiki kondisi saat ini. Ia berujar, adanya optimisme realisasi program pemerintah dalam hal ini merupakan cara ampuh untuk memperbaiki kondisi pasar.

"Buyback itu cara instan, ya memang ini akan membaik saat ada yang buyback, tapi kan belum tentu besoknya juga membaik, ini juga yang menjadi pertimbangan emiten," ungkapnya.

Meksi begitu, menurut pandangannya, beberapa emiten yang kebanyakan adalah BUMN, saat ini memang tengah berencana melakukan opsi buyback saham. Terutama dari sektor perbankan, seperti PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

"Kalau yang swasta PT. Media Nusantara Citra (MNCN)," tambahnya.

Sementara, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio menyatakan beberapa emiten saat ini sudah mulai merespon kelesuan pasar modal dengan opsi buyback saham. Ia pun menyebut beberapa emiten seperti, PT. Arwana Citramulya Tbk (ARNA), PT. Medco Energi Internasional (MEDC), PT. Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), dan PT. Media Nusantara Citra (MNCN), sudah menyampaikan keterbukaan informasi sehubungan dengan rencana buyback saham.

"BUMN juga sudah menurut saya, tapi kami nggak boleh buka datanya" katanya.

Namun, ia bisa memastikan dana pembelian saham kembali yang dilakukan oleh emiten-emiten BUMN bukan berasal dari APBN. Menurutnya, emiten-emiten itu menggunakan dana kas perusahaan yang tak dipakai untuk keperluan bisnis mereka. Pun tidak mungkin menurutnya, emiten BUMN yang buyback saham itu mengorbankan dana belanja modal mereka.

"Yang pasti mereka nggak minjem juga, kalau minjem untuk buyback mereka akan melalui RUPS, tapi ini kan tidak ada RUPS, jadi tidak pinjam dana," jelas Tito.

Di luar itu, ia pun mengakui efek kebijakan buyback saham ini memang terbilang jangka pendek. Menurutnya, hal ini karena pihaknya dan OJK optimistis kondisi lesunya pasar tidak akan berlangsung lama.

"Makanya OJK dan bursa reaksinya adalah short term yang bisa langsung bereaksi," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement