Kamis 27 Aug 2015 16:45 WIB

Ditanya Soal Harga, Mentan Minta Pengusaha Ingat Nenek Moyang

Rep: Sonia Fitri/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Mentan Andi Amran Sulaiman didampingi Bupati Ngawi Budi Sulistyono (kanan) melihat traktor yang dibagikan Presiden Joko Widodo.
Foto: Antara
Mentan Andi Amran Sulaiman didampingi Bupati Ngawi Budi Sulistyono (kanan) melihat traktor yang dibagikan Presiden Joko Widodo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sejumlah pengusaha penggilingan mempertanyakan kejelasan ketetapan harga beras yang akan mereka jual ke Perum Bulog. Pasalnya, mereka khawatir harga yang dibayar terlalu rendah berdasarkan ketetapan PSO. Sementara, di musim kering harga beras tinggi.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) membuat kesepakatan dengan pengusaha penggilingan nasional. Dalam kesepakatan yang disaksikan TNI dan kepolisian tersebut, keduanya sepakat menjual beras ke Perum Bulog terkumpul 1.436.915 ton hingga September 2015

Menjawab pertanyaan tersebut, Mentan bertanya balik pada para pengusaha soal sejarah nenek moyang bangsa Indonesia. Kata Mentan, para pahlawan dulu wafat karena membela bangsa, tanpa digaji.

Maka, bentuk perjuangan anak cucu saat ini salah satunya dengan menjual beras. "Moyangmu berjuang tanpa digaji, sekarang Bapak mau jual beras saja tawar-tawar," katanya disambut tawa hadirin. Ia meyakinkan, beras yang dijual ke Bulog adalah untuk rakyat Indonesia juga, untuk cadangan negara.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement