REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pembebasan lahan untuk pembangunan jalan bebas hambatan Medan-Kualanamu ditargetkan tuntas di 2015. Karenanya, sejumlah upaya percepatan dilakukan termasuk menambah dana untuk tim appraisal.
Mengacu pada UU No.2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, pemerintah akan memberikan tambahan dana masing-masing Rp 50 juta untuk percepatan pembebasan oleh tim appraisal.
"Bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional, kita akan mengalokasikan dana tambahan tersebut pada tiga lokasi pembebasan yang dipercepat di Perbarakan, Tanjung Morawa, dan persimpangan ujung Kualanamu," kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) Hediyanto W Husaini, Rabu (12/8). Bagian tersebut didahulukan agar tidak mengganggu pembangunan.
Kebutuhan pembebasan lahan juga terdapat untuk seksi Parbarakan-Tebing Tinggi. Ruas ini membentang sepanjang 44 Kilometer. Ia terdiri dari lima seksi yaitu, Parbarakan-Lubuk Pakam, Lubuk Pakam-Perbaungan, Perbaungan-Teluk Mengkudu, Teluk-Mengkudu-Sei Rampah, Sei Rampah-Rambutan.
Progress pembebasan lahan, lanjut dia, terdapat pada empat seksi dan sudah mencapai 70-100 persen. Namun di seksi terakhir mendekati Tebing Tinggi yakni Sei Rampah-Rambutan pembebasannya baru mencapai 40 persen. "Kita harus fokus supaya ini cepat terselesaikan. Kita berharap seksi 3 hanya terlambat enam bulan dari penyelesaian Cina," ujarnya.
Ia bahkan menetapkan target pada Juni 2016 pembebasan lahan hingga seksi 3 bisa selesai. Kemudian pada 2017 seksi V bisa rampung 100 persen. Jika ditotal Tanjung Morawa-Parbarakan-Kuala Namu-Tebing Tinggi sepanjang 61.3 KM.
Seperti diketahui, pembangunan jalan tol Medan-Kualanamu sepanjang 17,8 Kilometer masih terkendala pembebasan lahan. Pekerjaan jalan bernama CSU-01 Toll Road Development of Medan Kualanamu ini berlokasi di Seksi 1A pada proyek Tol Medan Kuala Namu-Tebing Tinggi (MKTT), terdiri dari Seksi 1A.1 sepanjang 10,9 Km (awal Tanjung Morawa) dan Seksi 1A.2 sepanjang 6,835 Km (akhir Bandara Kuala Namu).
Menurut rencana, Seksi 1 dan 2 seharusnya rampung tahun ini namun tertunda akibat pembebasan lahan yang belum tuntas. Kontrak pekerjaan Paket CSU-01 tersebut ditandatangani pada Desember 2011 dengan nilai kontrak sebesar Rp 1,4 Triliun dengan kontraktor pelaksana China Harbour Engineering-China State Construcion Eng.Corp (CHEC-CSCHEC-HK) dan PT Hutama Karya (Persero).