REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak global naik pada Kamis waktu New York atau Jumat (24/4) pagi WIB. Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh koalisi yang dipimpin Arab Saudi memperpanjang serangan udara di Yaman sehingga memicu kekhawatiran baru tentang pasokan Timur Tengah yang kaya minyak.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, naik 1,58 dolar AS menjadi ditutup pada 57,74 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juni, patokan global, melompat 2,12 dolar AS menjadi menetap pada 64,85 dolar AS per barel di perdagangan London.
"Pasar mungkin menarik dukungan dari dimulainya kembali serangan udara Arab Saudi terhadap pemberontak Houthi di Yaman, karena meningkatnya risiko geopolitik membantu mengimbangi data PMI (indeks pembelian manajer) yang lebih lemah dari perkiraan dari Cina dan zona euro," kata Tim Evans dari Citi Futures.
Aliansi regional yang dipimpin Saudi pada Selasa menyatakan telah mengakhiri serangan udara terhadap pemberontak Houthi yang didukung Iran dan sekutu mereka. Namun, mereka berjanji tetap akan menyerang jika diperlukan.
Yaman memang bukan negara penghasil minyak utama. Tapi, Yaman berbatasan langsung dengan Laut Merah yang mengirimkan sekitar 4,7 juta barel minyak setiap hari di kapal-kapal menuju ke atau dari Terusan Suez. Evans mengatakan WTI tertinggal dari Brent karena masih di bawah tekanan kenaikan persediaan minyak mentah AS untuk pekan ke-15 berturut-turut, ke rekor 489.000 barel untuk kali tahun ini.