Rabu 17 Dec 2014 00:22 WIB

Simak Penjelasan Menkeu Terkait Anjloknya Rupiah (2)

Rep: Satria Kartika Yudha/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (kiri).
Foto: Republika/Yasin Habibi/ca
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (kiri).

REPUBLIKA.CO.ID,

JAKARTA - Rupiah mengalami tekanan luar biasa akibat menguatnya dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah bahkan sempat mencapai level Rp 12.900 per dolar AS.

Berikut penjelasan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro terkait anjloknya rupiah dalam sesi tanya jawab dengan dengan awak media di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Selasa (16/12).

3. Kenapa dolar AS menguat?

Pertama karena ada ekspektasi perbaikan ekonomi AS lebih cepat dari yang diperkirakan. Ditambah ada ekspektasi kemungkinan hasil rapat Federal Market Open Commite pada 16-17 Desember ini. Yang tentunya nanti akan memberikan arahan seperti apa nanti prospek selain penghentian dari stimulus moneter AS, juga bagaimana reaksi otoroitas moneter terhadap ekonomi di AS.

Dengan perbaikan ekonomi AS yang terlihat dari pertumbuhan yang lebih baik, dan angka pengangguran yg turun, akan menarik investasi di //emerging market// kembali ke AS. Jadi memang ada istilah dolar ini pulang kampung. Karena dolar yang selama ini tersebar dan dianggap yang paling prospektif, untuk sementara ini kembali ke AS karena ada prospek yg baik.

4. Apakah gejala melemahnya rupiah dan menguatnya dolar bersifat sementara?

Ini bisa kami sampaikan bahwa fenomena pelemahan rupiah terhadap USD minggu ini memang sifatnya temporer dan ada unsur eksternalnya.

Per 15 Desember 2014, pelemahan rupiah harian itu 2 persen.  Rupiah pun bukan yang paling lemah terhadap dolar.

Rubel (mata uang Rusia) mengalami pelemahan 10,2 persen, Lyra Turki 3,4 persen pelemahannya. Yang lebih baik dari kita adalah Brasil yang pelemahannya 1,6 persen. Kalau kita ambil year to date, artinya posisi awal tahun sampai hari ini, pelemahan rupiah adalah 4,5%, Rubel 48,8%, Lyra Turki 8,9%, dan Peso Brasil 12,4%.Jadi, secara global di emerging market itu mengalami pelemahan signifikan.

Satu hal lagi yang menyebabkan rupiah cukup dalam melemah ini karena kebijakan Rusia. Rusia menaikkan tingkat suku bunga  dari 10,5 persen menjadi 17 persen. Bayangkan kalau BI (Bank Indonesia)  biasanya mengumumkan BI rate itu biasanya 25 bps, ini (kenaikan suku bunga Rusia) adalah kenaikan 650 bps.

5. Lalu apa hubungannya kenaikan tingkat suku bunga Rusia dengan pelemahan rupiah?

Investor itu ketika melihat Rusia naik 650 bps, pasti ada pemikiran untuk memindahkan  portofolio ke Rusia.Nah, pola berpikir ini yang kemudian menyebabkan perubahan di pasar khususnya permintaaan terhadap rupiah.

Permintaan terhadap surat utang negara dan lainnya. Jadi ini memahg ada pengaruh dari kebijakan Rusia. Dan ini sudah keenam  kalinya Rusia harus menaikkan suku bunga acuan. Karena ada depresiasi rubel, inflasi, dan tekanan harga komoditas khususnya minyak yg menggerus pendapatan sampai 50 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement