Kamis 26 Jun 2014 19:36 WIB

Hadapi Pasar Bebas ASEAN, UKM tak Boleh Santai

Rep: DR Meta Novia/ Red: Erik Purnama Putra
 Pengusaha UKM, Yajid (52) mengamplas meja belajar yang akan dijual di rumah produksi miliknya kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (26/6).
Foto: Raisan Al Farisi
Pengusaha UKM, Yajid (52) mengamplas meja belajar yang akan dijual di rumah produksi miliknya kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (26/6).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua Perdagangan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi), Hardini Puspasari mengatakan, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tidak boleh manja dan santai menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Perubahan cepat dan kompetisi global yang semakin ketat membuat pelaku UKM harus menjadi pemain tangguh.

Peran pemerintah, kata dia, sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing UKM, mengingat kualitas sumber daya manusia pelakunya belum memadai. "Apalagi sebagian besar atau lebih dari 60 persen pelaku UKM adalah perempuan," ujar Hardini di Jakarta, Kamis (26/6).

Menurut Hardini, dapat dijumpai sebanyak 55,2 juta UKM yang tersebar di seluruh Tanah Air dikelola mereka. Karena itu, ia menyarankan pelaku UKM diharap melek dan menguasai teknologi, sehingga dapat berinovasi dengan menciptakan produk UKM yang berdaya saing tinggi.

"Mereka tidak hanya memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi bangsa, tetapi juga ekonomi rumah tangga," katanya.

 

Hardini menyatakan, penyelenggaran 'Pameran Interior dan Craft' merupakan salah satu wujud komitmen pemerintah dan dunia usaha untuk memajukan UKM. "Tanpa dukungan dari berbagai pihak sulit bagi UKM dalam negeri untuk bersaing di kompetisi global," katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Hippi, Suryani Sidik Motik mengatakan, organisasi Hippi memiliki visi sebagai organisasi yang kuat, mandiri, dan berdaya saing serta menjadikan pengusaha sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Sebagai organisasi yang mengusung ekonomi kebangsaan, sambung dia, Hippi dalam berbagai aktivitasnya selalu memperjuangkan agar produk Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu menembus pasar luar negeri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement