Kamis 05 Jun 2014 19:01 WIB

Perajin Dilatih untuk Hadapi Pasar Bebas ASEAN

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Asep K Nur Zaman
Industri Kerajinan (ilustrasi)
Foto: Rakhmawaty La'lang/Republika
Industri Kerajinan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Jawa Timur pasang kuda-kuda untuk para perajn daerahnya dalam menghadapi pasar bebas di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Mereka disiapkan agar mampu bersaing menciptakan produk barang dan jasa dari negara lain. 

“Tantangan ke depan menghadapi pasar bebas sangat berat. Semoga kita bisa bersaing dengan berbagai cara yang memberikan perhatian lebih kepada perajin untuk tumbuh dan berkembang,” kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranasda) Provinsi Jatim, Nina Soekarwo, seusai menghadiri puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 Dekranas, di UKM Convention Center, Gedung SMESCO Jakarta, Kamis (5/6)

Nina menuturkan, dalam menghadapi pasar bebas MEA 2015, arus barang dan jasa bisa diperdagangkan secara terbuka. Untuk itu, dibutuhkan peningkatan keahlian, kemampuan, dan kompetensi perajin. “Maka peran Deskranasda Provinsi Jatim mutlak diperlukan,” katanya.

Dengan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada perajin, lanjut istri GUbernur Jatim Soekarwo itu, akan mampu menciptakan produk barang dan jasa dengan kualitas yang tidak kalah dengan negara lain. Contohnya, jika produk yang dihasilkan diberikan kemasan yang menarik maka akan menjadi daya tarik bagi  konsumen.

Dia menjelaskan, selain kualitas SDM yang menjadi perhatian, Deskranasda Provinsi Jatim dalam menghadapi pasar bebas adalah menitik beratkan pada kualitas barang dan jasa hasil perajin. Setelah itu, memfokuskan pada harga agar tidak terlalu mahal.

"Harga yang terlalu mahal akan mempengaruhi penjualan produk yang dihasilkan," ujar Nina.

Biasanya, jika produk yang dijual laris dan terjual habis, namun ketika ada permintaan selanjunya harga barang akan ditingkatkan atau dinaikkan 2-4 kali lipat dibandingkan dengan harga normal. “Ini yang menyebabkan perajin kita kalah dipasaran karena tidak konsisten di harga,” tuturnya.

Nina memastikan, jika kualitas barang dan jasa serta harga stabil, pengrajin tinggal meningkatkan kreatifitas dan inovasi produk sehingga konsumen akan tetap tertarik.

“Eropa banyak memiliki kerajinan bordir yang bagus. Akan tetapi, saya yakin kerajinan bordir dari daerah daerah di Indonesia tidak kalah dengan Eropa,” ujar Nina. 

Sementara Ketua Umum Deskranas Herawati Boediono mengharapkan, di usia yang semakin matang ini Deskranas mampu berperan lebih produktif, kreatif, inovatif sehingga hasilnya bisa bermanfaat bagi pengabdian rakyat, bangsa dan negara khususnya meningkatkan ekonomi. Secara khusus, dia memberikan apresiasi kepada pengurus Deskranasda yang telah mau turun ke lapangan mendengarkan aspirasi perajin di daerah. 

“Dengan langsung turun ke lapangan, pengurus dapat menginventarisasi hingga mengidentifikasi setiap permasalahan untuk diteruskan kepada pemangku kepentingan yang ada. Sehingga produk usaha dari perajin bisa terpasarkan dengan baik,” ujarnya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement