Rabu 23 Apr 2014 17:42 WIB

API: Investasi Mesin Tekstil Asing Masih Rendah

Pabrik tekstil di Indonesia (Ilustrasi)
Foto: KBRI Roma
Pabrik tekstil di Indonesia (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai investasi asing untuk peremajaan atau restrukturisasi mesin di bidang tekstil dan produk tekstil (TPT) masih tergolong rendah.

"Kita melihat indikasi asing untuk berinvestasi di bidang tesktil masih rendah," kata Ketua Umum Pengurus Nasional API Ade Sudradjat saat ditemui di Pameran Indo Intertex-Inatex-Indo Dyechem di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (23/4). Padahal, menurut Ade, resktrukturisasi mesin sangat bermanfaat untuk memperkuat industri dalam negeri.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, restrukturisasi mesin dan peralatan industri teksil dan produk tesktil (TPT) berhasil menyerap 118.314 tenaga kerja dari 2007 hingga 2014 dari keseluruhan tenaga kerja yang mencapai 1,5 juta orang.

Selain itu, restrukturisasi mesin juga berkontribusi untuk kapasitas produksi sebesar 14-20 persen. Untuk produktivitas juga meningkat sebesar 4-9 persen serta peningkatan efisiensi penggunaan energi sebesar 2-7 persen.

Untuk itu, Ade mengimbau agar restrukturisasi mesin harus ditangani secara menyeluruh, termasuk dari sistem otomotif. "Tidak bisa parsial, harus semua dibereskan, yang penting masalah perizinan di daerah, coba kita lihat Vietnam ekspornya jauh lebih tinggi dibanding Indonesia," ucapnya.

Pada kenyataannya, nilai ekspor yang disumbang TPT, dia menyebutkan pada 2013 mencapai 12,68 miliar dolar AS atau setara dengan 8,5 persen dari nilai ekspor nonmigas. Dengan kata lain, Indonesia mampu memenuhi sekitar 1,8 persen kebutuhan dunia akan produk TPT. Selain itu, tren importasi pada 2013 untuk produk TPT sebesar 8,47 miliar dolar AS meningkat dari 2012 yang hanya mencapai 8,14 miliar dolar AS.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement