Selasa 11 Mar 2014 18:44 WIB

Penguatan Rupiah Ancam CAD

Rep: Friska Yolandha/ Red: Julkifli Marbun
Defisit Neraca Transaksi Berjalan
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Defisit Neraca Transaksi Berjalan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah di kurs tengah Bank Indonesia (BI) mengalami penguatan menjadi Rp 11.384 dibanding sebelumnya di posisi Rp 11.449 per dolar AS. Pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih mengatakan, penguatan rupiah berisiko.

"Kita sedang dalam kontrol perbaikan defisit neraca transaksi (CAD)," ujar Lana, Selasa (11/3).

Pemerintah sudah mampu mengontrol impor nonmigas melalui kebijakan-kebijakan. Namun impor migas masih sulit dikendalikan melalui kebijakan. Sementara, ekspor masih stagnan.

Turunnya impor sebelumnya disebabkan oleh kenaikan suku bunga acuan BI. Selain itu, BI juga mengendalikan kredit impor. Pelemahan rupiah selama ini juga membantu pengendalian impor.

Akan tetapi belakangan mulai terlihat tanda-tanda kenaikan impor nonmigas meskipun secara keseluruhan nilainya turun. "Di antaranya di konstruksi baja dan kapas," ujar Lana.

Selain permintaan, kenaikan impor saat ini didorong oleh antisipasi permintaan impor jelang Ramadhan dan lebaran. Karena kondisi saat ini, importir memutuskan untuk melakukan impor tiga bulan sebelum Ramadhan berlangsung.

Penguatan rupiah didorong oleh masuknya dana asing. Dana asing masuk melihat ekspektasi pemilu ke depan. "Kalau rupiah menguat, akan lebih mudah impor turun terbatas," kata Kepala Ekonom Samuel Sekuritas ini.

Ia memproyeksikan ada potensi kenaikan defisit pada kuartal I 2014. Perkiraannya defisit tidak lebih dari kuartal II tahun lalu yang mencapai empat persen. Defisit kali ini kemungkinan 2,3 persen.

Lana menambahkan, pemerintah perlu segera merealisasikan paket kebijakan jilid ketiga, yaitu fokus pada repatriasi. Paket kebijakan terbaru ini diharapkan dapat menurunkan defisit menjadi dua persen.

Rupiah sudah mengalami penguatan sejak Februari. Pada 20 Februari, nilai tukar rupiah pada kurs referensi Jakarta interbank spot dollar rate (JISDOR) tercatat sebesar Rp 11.772 per dolar AS per 20 Februari. Nilai ini menguat menjadi Rp 11.634 per 28 Februari. Nilai tukar sempat melemah menjadi Rp 11.647 pada 4 Maret sebelum kembali menguat menjadi Rp 11.580 pada hari berikutnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement