Jumat 03 May 2013 14:39 WIB

Sulut Kelebihan Produksi Daging Sapi

Rep: Satya Festiani/ Red: Nidia Zuraya
Peternakan Sapi (Ilustrasi)
Foto: Antarafoto
Peternakan Sapi (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengalami surplus produksi daging sapi. Data Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut menunjukkan produksi daging sapi mencapai sekitar 4,8 juta kilogram (kg), sedangkan kebutuhan lokal hanya 4,2 juta kg. Sulut mengalami kelebihan produksi daging sapi sebesar 630 ribu kg.

Menteri Pertanian, Suswono, mengatakan kelebihan produksi daging sapi di Sulut berpotensi didistribusikan ke pulau lain. "Jika populasi cukup baik dan ada rumah potong hewan (RPH) modern, bisa dikirim dalam bentuk daging beku," ujar Suswono dalam panen pedet di Kinali, Kawangkoan, Minahasa, Jumat (3/5).

Dalam kunjungannya ke Sulut, Menteri Suswono menyempatkan diri meninjau RPH UPTD Bailang. Menurutnya, RPH tersebut sudah cukup bagus karena telah mengikuti peraturan. RPH tersebut hanya memotong sapi jantan. "Sapi betina produktif dilarang dipotong. Di beberapa tempat masih banyak yang memotong betina," ujarnya.

Sulut memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan usaha sapi potong. Ketersediaan lahan menunjang usaha peternakan sapi. Petani sapi tidak kesulitan mencari pakan untuk sapi mereka karena di Sulut masih banyak tersedia lahan penggembala.

Suswono mengatakan pemerintah akan membuat peraturan bahwa setiap kabupaten di Indonesia harus memiliki lahan penggembala. "Ini kunci agar lebih efisien," ujarnya.

Dengan adanya lahan penggembala, harga daging sapi lokal pun diharapkan lebih murah daripada daging impor dan dapat bersaing dengan negara lain. Minahasa juga merupakan lokasi pilot project dilaksanakannya inseminasi buatan (IB) ternak sapi sejak 2011. Dari 17 ribu sapi betina, Minahasa menghasilkan 1.057 ekor anak sapi hingga 2013.

Suswono mengatakan IB lebih baik daripada perkawinan biasa karena dapat mengurangi resiko cacat pada anak sapi. Ia mengimbau inseminator agar melakukan IB secara tepat waktu. Indonesia saat ini tengah berusaha mencanangkan swasembada lima bahan pangan pokok, yakni beras, sapi, kedelai, gula, dan jagung.

Pasokan sapi di Indonesia masih kurang sehingga terpaksa mengimpor sapi. Pada 2012, Indonesia mengimpor sapi sebanyak kurang dari 20 persen. Suswono berharap tahun ini hanya mengimpor 15 persen.

Ia mengatakan cadangan sapi di Indonesia sebesar 14,8 juta sebenarnya bisa menutupi kebutuhan. Namun, Indonesia yang merupakan negara kepulauan menyulitkan proses distribusi. "Mengangkut sapi dari satu pulau ke pulau lainnya lebih mahal daripada mengimpor dari Darwin karena alat angkut kita masih tradisional," ujarnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menjajaki kerja sama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk distribusi sapi. Suswono mengatakan Kemenhub menjanjikan kapal untuk mengangkut sapi dari NTT.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Yohanes Paneulewen, mengatakan Sulut akan terus meningkatkan produksi daging sapi agar berkontribusi pada kebutuhan nasional, salah satunya dengan inseminasi buatan. Sulut memiliki populasi sebesar 2,3 juta jiwa. Kebutuhan daging sebesar 9,88 kilogram per kapita pertahun. Sebanyak 60 persen kebutuhan daging tersebut dipenuhi oleh daging babi.

"Melihat luasnya lahan di Sulut, prospek pengembangan sapi sekitar satu juta ekor," ujar Yohanes. Peternakan sapi diarahkan agar terintegrasi dengan pengembangan tanaman pakan. Ia juga mengatakan IB telah dilakukan di 35 desa, diantaranya adalah Tompaso dan Kawangkoan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement