Ahad 07 Apr 2013 13:30 WIB

Presiden SBY: Menkeu Baru Harus Gerakkan Ekonomi

Presiden SBY
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Presiden SBY

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan menteri keuangan yang baru harus bisa menggerakkan ekonomi.

“Saya sedang mikir siapa menteri keuangan yang tepat,” katanya SBY,  Sabtu (6/4) malam, seperti dilaporkan Pemimpin Redaksi Republika, Nasihin Masha.

 Saat ini pemerintah harus segera menentukan menteri keuangan yang baru. Agus Martowardojo, menkeu, sudah terpilih sebagai gubernur Bank Indonesia. Hingga kini sudah ada beberapa nama yang disebut sebagai calon penggantinya, di antara M Chatib Basri (kepala BKPM) dan Darmin Nasution (gubernur BI).

Adapun pernyataan SBY tadi diungkapkan saat berbincang santai dengan 11 pemimpin redaksi di kediaman Menperin MS Hidayat. Dalam acara itu hadir juga Menperdag Gita Wirjawan, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Menteri ESDM Jero Wacik, dan Wamenhan Sjafrie Sjamsuddin.

 SBY mengatakan, menteri keuangan yang baru jangan hanya mengurus fiskal saja. Tapi juga bagaimana investasi asing bisa masuk dan ekspor bisa meningkat. “Jadi jangan hanya statistiknya saja yang bagus tapi juga bagaimana rakyatnya bagus,” katanya.

Karena ada negara yang fiskalnya bagus tapi ternyata ditanggung rakyat miskin. “Lebih baik kantong pemerintah yang kempes daripada rakyatnya miskin,” ujarnya. Hal ini sesuai pengalamannya saat menjadi Mentamben. Ia berkunjung ke Irak. Negeri itu memang menderita akibat perang, namun rakyatnya tak begitu menderita karena pemerintah membebankannya pada negara bukan pada rakyat.

 Ketika ditanya bahwa kondisi fiskal yang sudah bagus saat ini apakah akan berlanjut? SBY menjawab, “Fiscal policy bukan hanya seorang menkeu.” Karena setiap kebijakan selalu dibawa ke sidang kabinet. “Saya hands on,” katanya.

 Menurutnya, seorang menteri keuangan ikut bertanggung jawab dan peduli terhadap komponen lainnya. Ia harus bisa menjaga keseimbangan subsidi, belanja pegawai, belanja modal, dan seterusnya sehingga ekonomi bisa bergerak. SBY mengakui salah satu kebijakan yang baik adalah fiskal yang prudent dan healthy.

Hal itulah yang sudah dipraktikkan negara-negara maju dan menjadi aturan baku seperti halnya Washington Consensus. Namun ternyata di antara mereka banyak yang berguguran. Karena itu ia mengingatkan bahwa fiskal adalah satu hal saja. Masih ada hal lainnya yaitu investasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement