Senin 25 Feb 2013 23:47 WIB

Loyalitas Nasabah, Kunci Sukses BPRS Rif'atul Ummah

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Djibril Muhammad
Bank Syariah/Ilustrasi
Foto: ANTARA
Bank Syariah/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Rif'atul Ummah tidak terpengaruh ekspansi bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) terhadap pembiayaan sektor mikro.

Keloyalitasan nasabah membuat BPRS yang sudah berdiri sejak 14 tahun ini merasa tidak terancam akan ekspansi tersebut. "Kami sudah punya nasabah yang loyal, jadi tidak khawatir," ujar Direktur Utama BPRS Rif'atul Ummah, Betty Royani kepada Republika, di Jakarta,  Senin (25/2).

Apalagi, kata Betty, di wilayah BPRS Rif'atul Ummah di Ciomas, Bogor, Jawa Barat, pembiayaan bank syariah belum banyak. Untuk itu BPRS Rif'atul Ummah masih melanjutkan produk-produk terdahulunya.

Dia menargetkan pembiayaan ke sektor mikro Rp 5,4 miliar (outstanding) di 2013. "Target kami 80 persen ke mikro dan 20 persen ke sektor konsumtif," katanya.

Beberapa kendala dihadapi BPRS dalam mengembangkan bisnisnya, di antaranya minimnya modal dan sumber daya manusia (SDM). Di BPRS swasta, kata Betty, modal cenderung kecil.

Bila cost of fund kecil, maka bagi hasil kepada nasabah akan rendah. Lain halnya bila BPRS mendapat setoran dana dari BUS, maka penyalurannya bisa tinggi. 

SDM menjadi kendala terbesar yang dihadapi BPRS Rif'atul Ummah. "Kami mengalami kesulitan SDM tahun lalu," ucap Betty.

Beberapa karyawan BPRS Rif'atul Ummah memilih pindah bekerja ke BUS sehingga diperlukan tenaga baru untuk menggantikannya. Merekrut karyawan baru dinilainya tidak mudah.

Sebab, mutu kualitas SDM harus benar-benar diperhatikan. Untuk menjamin hal tersebut, BPRS Rif'atul Ummah rutin mengadakan pelatihan setiap pekannya. 

Sementara itu, untuk menghadapi persaingan pembiayaan mikro dengan BUS, BPRS Artha Karimah Irsyadi merasa perlu menyiapkan diversifikasi produk. "Saat ini kami mencoba masuk di pembiayaan murabahah sepeda motor," ucap Direktur Utama BPRS Artha Karimah Irsyadi, Mahrus Junaidi.

Dia mengilustrasikan pembiayaan kepemilikan sepeda motor sebagai berikut. Misal harga motor Rp 15.950.000, margin/ keuntungan bank Rp 2.445.840, sehingga harga jual motor 18. 395.840.

Kemudian uang muka Rp 2.362.000, maka sisa harga diangsur Rp 16.033.840. BPRS Irsyadi melayani pembiayaan sepeda motor dari dealer resmi pilihan nasabah dan menerima uang muka lebih dari ilustrasi tersebut.

Menurutnya, pasar tersebut masih terbuka lebar. "Harga bersaing dengan leasing," ujar Mahrus. BPRS Irsyadi pun menargetkan hingga penghujung 2013 nanti, total pembiayaan mencapai Rp 39 miliar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement