REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah yakin bisa menghadapi fluktuasi harga minyak yang mungkin terjadi akibat terjadinya ketegangan di Selat Hormuz Iran. Sementara terkait penerapan opsi kenaikan harga premium, pemerintah masih menunggu hasil pembahasan bersama dengan DPR.
Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Radjasa menyatakan, Indonesia sudah beberapa kali menghadapi fluktuasi harga minyak akibat tidak menentunya kondisi keamanan internasional. “Tapi kita punya strategi yang tertuang dalam kebijakan energi nasional,” katanya, Selasa (24/1).
Menurutnya, kunci utama untuk menghadapinya adalah dengan mengurangi ketergantungan BBM, yaitu dengan melakukan diversifikasi penggunaan energi sampai tahun 2025 secara bertahap.
Menurutnya, naik atau tidaknya harga minyak mentah, pemerintah harus menjalankan strategi ini. “Karena minyak itu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui,” katanya.
Namun pemerintah lanjutnya, juga memiliki kebijakan jangka pendek bila sewaktu-waktu ketegangan terjadi. “Bila harga minyak melambung tinggi, ada opsi-opsi untuk menyelamatkan ekonomi. Opsinya apa, nanti saja diberi tahu. Ini kan masih kalau,” ujarnya.