Rabu 10 Oct 2018 16:22 WIB

Afrika Tertarik Pesawat Buatan Indonesia

PT DI mampu memproduksi 10 unit pesawat per tahun.

Staf Khusus Menteri BUMN Wianda Pusponegoro (kiri) mengamati salah satu maket produk pesawat buatan PT Dirgantara ketika meninjau pameran di Pavilion Indonesia di area penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10). Pameran tersebut menampilkan serba-serbi Indonesia mulai dari industri strategis nasional, wisata hingga kekayaan seni budaya, serta kerajinan tangan khas Indonesia.
Foto: Kominfo
Staf Khusus Menteri BUMN Wianda Pusponegoro (kiri) mengamati salah satu maket produk pesawat buatan PT Dirgantara ketika meninjau pameran di Pavilion Indonesia di area penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10). Pameran tersebut menampilkan serba-serbi Indonesia mulai dari industri strategis nasional, wisata hingga kekayaan seni budaya, serta kerajinan tangan khas Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA -- Sejumlah negara Afrika seperti Madagascar, Kongo dan Sudan tertarik dengan dua jenis pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Pesawat N 235 dan N 219 dipamerkan di Paviliun Indonesia di Nusa Dua, Bali.

"Sudah ada Madagascar, Kongo dan Sudan yang menyatakan tertarik dan dalam tahap penjajakan," kata Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro di Paviliun Indonesia pada Rabu (10/10).

Elfien menambahkan, keikutsertaan PT DI di pameran Paviliun Indonesia memang bukan bertujuan untuk menjual produk. Pameran ini lebih menunjukkan karya bangsa kepada para delegasi IMF-WB daris eluruh dunia.

Elfian menyebutkan negara-negara Afrika termasuk pangsa pasar yang ditarget untuk pesawat jenis N 235 dan N 219. Pasalnya, kedua pesawat tersebut cocok untuk kondisi geografis mereka.

"Kalau Eropa baru ada Norwegia yang nanya-nanya karena mungkin dua pesawat jenis ini khusus untuk daerah yang memerlukan short take off dan landing sehingga mudah dioperasikan di daerah terpencil," katanya.

Saat ini, PT Di mampu memproduksi rata-rata 10 pesawat dalam satu tahun.

Tahun depan, empat pesawat sudah dipesan oleh Senegal, Nepal dan Thailand dengan rincian Senegal memesan pesawat N 235 seharga 25 juta dolar AS, Nepal memesan pesawat N 235 dengan konfigurasi pesawat maritime patrol seharga 30 juta dolar AS sedangkan Thailand memesan dua pesawat N 212 i seharga sekira 13 juta dolar AS.

"Kenapa maritime patrol lebih mahal karena pesawat memerlukan kelengkapan seperti komputer, radar dan lain-lain, sedangkan kalau pesawat transportasi biasa kan cuma butuh kursi," katanya.

Sampai saat ini, PT DI mampu memproduksi 431 pesawat. Sebanyak  48 di antaranya sudah diekspor ke Korea, Malaysia, Thailand, Turki, Brunei Darusalam, Filipina, vietnam dan lain-lain.

"Memang kita pasarnya cocok untuk negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Latin karena sesuai untuk medannya," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement