Kamis 19 May 2022 13:13 WIB

Pentingnya Digitalisasi Atasi Masalah Logistik dan Transportasi

Perlu percepatan digitalisasi sektor logistik dan transportasi pada era industri 4.0

Memanfaatkan teknologi dan analisa data, digitalisasi akan membantu pelaku sektor logistik dan transportasi memecahkan sejumlah tantangan jangka panjang, seperti kurangnya transparansi logistik, proses konvensional dan manual dan konektivitas. Tampak diskusi tantangan sektor logistik dan transportasi, Rabu (18/5/2022)
Foto: istimewa
Memanfaatkan teknologi dan analisa data, digitalisasi akan membantu pelaku sektor logistik dan transportasi memecahkan sejumlah tantangan jangka panjang, seperti kurangnya transparansi logistik, proses konvensional dan manual dan konektivitas. Tampak diskusi tantangan sektor logistik dan transportasi, Rabu (18/5/2022)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Berkembangnya bisnis e commerce diyakini banyak kalangan mendorong kebangkitan layanan digital di berbagai bidang. Salah satunya adalah digitalisasi sektor logistik dan transportasi yang bergerak dalam pengiriman barang dari satu tempat ke tempat lain yang membutuhkan kepastian.

Karena itu diperlukan percepatan digitalisasi di sektor logistik dan transportasi pada era industri 4.0. Memanfaatkan teknologi dan analisa data, digitalisasi akan membantu pelaku sektor logistik dan transportasi memecahkan sejumlah tantangan jangka panjang, seperti kurangnya transparansi logistik, proses konvensional dan manual dan konektivitas.

Baca Juga

"E comemrce menjadi gerbang teknologi sendiri, disini peluang efisiensinya sangat luar biasa," kata David Fernando Audy, Operating Partner, East Ventures. Pihaknya telah memberikan investasi dan berbagai dukungan di sektor logistik, salah satunya kepada McEasy. McEasy telah menjadi solusi terbaik teknologi logistik transportasi dengan digitisasi aktivitas armada transportasi sehingga semua proses dan indikator penting bisa dimonitor dan dievaluasi. 

Hasilnya adalah Transparansi Logistik, yang berarti mengetahui secara real-time apa yang terjadi di setiap langkah rantai pasok, seperti mengetahui lokasi armada logistik secara akurat, kepatuhan supir armada hingga jenis muatan.

Namun, bisnis logistik sendiri diakui memiliki sejumlah tantangan berat. Salah satunya adalah biaya tinggi karena harus melalui rantai pasok yang cukup panjang. Menurut Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) biaya yang harus dikeluarkan meliputi transportasi (8,81 persen) dan jasa pergudangan (3,45 persen), biaya penyimpanan (7,19 persen) dan adimistrasi logistik (2,03 persen).  Sehingga total jumlahnya mencapai 21,48 persen. Apalagi Presiden Joko Widodo menyebutkan biaya logistik Indonesia masih lebih mahal dibanding lima negara Asia lainnya karena masih 24 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau setara Rp 3.560 triliun. 

Ir. Mahendra Rianto CSLP, ESlog (ELA) ketua Asosiasi Logistik Indonesia dalam diskusi tantangan sektor logistik dan transportasi, Rabu (18/5/2022) menilai  untuk menekan biaya logistik agar tidak tinggi perlu upaya untuk menekan biaya logistik mulai dari barang diproduksi hingga sampai ke tangan konsumen. Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan jarak antar wilayah yang cukup jauh menjadi tantangan tersendiri. "Solusinya untuk jalan tidak bisa sendiri, harus ada kerjasama yang baik antar kementerian dan lembaga terkait, khususnya terkait dengan suplai chain," katanya.

Dalam perihal konektivitas, transportasi darat merupakan jangkar perpindahan barang di Indonesia karena mencakup 80 hingga 90 persen dari total volume pengiriman yang ditangani setiap tahunnya2. Walaupun pemerintah tengah gencar melakukan pembangunan infrastruktur jalan, kondisi infrastruktur belum maksimal mengingat karakteristik Indonesia yang merupakan negara kepulauan."Tantangan yang dihadapi sektor perpindahan barang dan penumpang dapat dipecahkan dengan intervensi teknologi," kata David.

Salah satunya adalah dengan implementasi Transportation Management System. Sebuah software cerdas terintegrasi untuk menganalisa proses pengiriman barang yang efisien dan terpadu. "Software ini berguna bagi penyedia jasa logistik dan transportasi, termasuk bus penumpang, jasa pengiriman barang hingga komoditi tertentu, seperti farmasi, daging, makanan laut, produk susu dan frozen food," kata Hendrik Ekowaluyo, Co-founder, McEasy.

Para pemain di sektor logistik dan transportasi membutuhkan solusi digital yang mampu memecahkan tantangan hingga ke tingkat paling dasar. Contohnya, kerumitan dalam rekonsiliasi surat jalan elektronik, pengaturan uang saku supir.

Selain berinovasi lewat software manajemen logistik pintar, McEasy sendiri  meluncurkan Gerakan 1 Juta Kendaraan. Gerakan ini ingin mewujudkan ekosistem transportasi dan logistik yang terkoneksi, memiliki visibilitas, integrasi yang bersifat dari hulu ke hilir. Target McEasy adalah mendigitalisasi dan mengintegrasikan setidaknya satu juta unit kendaraan roda empat ke dalam ekosistem logistik dan transportasi hingga tahun 2025.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement